Feeds:
Pos
Komentar

Penasaran??? Klik aja Pasar Batik Selamat berburu…!!!! 😀

Iklan

Email Kantorku (2)


Subject: RE : APLIKASI – LAMBAT
From: Dwinanto Teguh W
To: Dwinanto Teguh W
Cc: nety@xxxxxx.co.id; “ana”; alinurgi ; Ali ; Imam ; Niko

Dear bu anna,
yuhuuuu…. atensiong plisss deyh…..
pada jam 9:53 tgl.08/06/10 hari selasa aplikasinya eike makarena lambretta ya mbok,..
yuukk mareee,..


Pak,
Hari ini saya sakit. Saya berhalangan masuk kantor.

[ Send ]

“Lho, laptopnya ngga di bawa?”, tanya Ibuku.
“Ngga”, jawabku singkat. Sambil bergegas pergi.

Kutarik tali kekang. “Hyyaaa..!” Pegassus pun berlari mengantarku pergi.

[ Selamat Datang di Kelurahan Mautauaja ]

Jam 07.50 pagi. Mudah-mudahan sudah cukup siang untuk ukuran PNS 🙂
Ku masuki kantor sederhana yang kelihatan masih lenggang itu.
“Di lantai 2,” jawab seorang petugas disitu sambil ngeloyor pergi.
Kunaiki tangga.

[ Ruang Tunggu ]
Ada empat ibu-ibu yang duduk di ruangan ini sambil menonton TV.
Di dekat situ ada loket. Tapi karena masih tidak yakin, aku memilih
pasang muka orang kebingungan.
“Mba mau ngapain?”
“Mau urus perpanjangan SKCK dimana ya, bu?”
“Oh. Masuk aja ke situ,”jawab ibu itu sambil menggerakkan telunjuknya.

Aku melangkahkan kaki ke ruangan yang dimaksud ibu itu.
Ada mba-mba yang sedang duduk. Kuhampiri.
Tangannya meminta. Kubuka tasku, dan kuambil map plastik bening
yang didalam sudah ada berkas-berkas yang diperlukan untuk mengurus
surat keterangan perpanjangan SKCK. Kuberikan pada mba itu.
“Mba, fotokopian KK-nya dua lembar”, tangannya masih menengadah lagi.

Blussshhh !! Muncul gumpalan asap di sebelahku. Berangsur-angsur
lenyap, dan bayangan itu makin jelas. O, ternyata si Chris Tucker.


“What ?!! Yauw right, what a Indonesian government look like. Mam, your board itself doesn’t mention anything number of copy! and now, you said, you need two copied?? This official with all the rules are messed, you know mam?? So then, what if just one copy?? Two or One it doesn’t make the hungriness of african disappeared anyway.. So, do you still think this is a big issue, Mam?!!…” orang afro ini terus saja nyerocos tidak
karuan..

Ku buka map plastik beningku lagi. Ku ambil satu lembar fotokopian KK lagi.
Kuberikan. Uh, untung saja. Kalau tidak aku harus kembali ke tempat fotokopi,
dimana yang terdekat dari sini pun harus naik angkot PP. Saranku, jangan
pernah percaya dengan papan pengumuman kantor pemerintah. Be a well prepared !

Aku menuju ruang tunggu. Hari ini tampaknya mereka sepakat untuk menonton
acara musik INBOX di SCTV.

***
“Anaaa,”panggil ibu dari dalam loket.
Aku bergegas.

“Tanda tangan disini. Ini berkas – berkas yang nantinya diserahkan ke Polsek, “pesannya.
“Terima kasih ya, mba.” jawabku sambil terus berdiri. Menunggu, memastikan
bahwa tidak ada yang “terlewat” … 😀
“Sudah selesai semua mba. Sekarang mba bisa langsung ke Polsek, “jawabnya.
Wuaa.. ternyata gratis. Tidak ada lagi 5 atau 10 ribu di bawah map xixixixi…
Good!

Ku buka tali pengikat Pegassus. Hupp.. Aku memutar tali kekang, Pegassus kuarahkan ke Polsek. “Hyyaaa..!”

***

[ Kepolisian Sektor Kecamatan Rahasia ]

Jam 09:04.
Situasi agak ramai di loket administrasi.

Ku ikat Pegassus di tiang yang diatasnya terdapat papan bertuliskan,
Melayani dan Melindungi Masyarakat.


Ku masuki ruangan itu, dan menghampiri wanita dengan potongan rambut
pendek. Wanita yang sama, yang beberapa hari lalu sudah menolakku
karena tidak membawa surat pengantar Kelurahan. Dia melihatku mulai dari
bawah sampai atas. Seraya acuh tak acuh menerima berkas-berkas dari
tanganku. Masih dengan tatapan yang tidak simpatik, “Besok-besok
kalo kesini pakai sepatu ya, Mba?? Jangan sendal…”
Aku tersenyum dan mengangguk mengaku salah.

Seharusnya ibu ini memperhatikan, kalau aku memakai blus ungu dan alas kaki ungu. Celana panjang hitam dan tas hitam dengan pita besar. I’m already in fashion. Nauow! And this is not sandals, but a trendy footwear in this season. A trendy Footwear, I repeat. Ouw, My Goat…!

Ada dua lembar formulir riwayat hidup yang harus diisi.
Setelah itu menggunggu di ruang tunggu.
Sekitar tiga puluh menit aku di sini.
Kuhabiskan sebagian waktu untuk meneruskan browsing tadi malam.

“..Kalau memang RS Haji Jakarta adalah RS Pemerintah aku kan tidak
perlu jauh-jauh ke RSCM atau Fatmawati…,”pikirku.

“… RS ini didirikan atas kerjasama pemerintah Arab Saudi dan Depkes.. “
“… dibangun di atas tanah milik Departemen..”
“RS bertanda plat merah ini…”
“.. pemerintah daerah Jakarta Timur ini berlokasi di…”

“Sip. Kayaknya potongan-potongan informasi ini cukup menyakinkan
aku kalau RS Haji Jakarta itu milik pemerintah… hemm ,”pikirku senang.

Sampai kemudian namaku dipanggil.
[ Exit Opera Mini ]

Aku masuki ruang administrasi itu lagi.
Jari-jari tanganku dilumuri tinta.
Pemberkasan sidik jari.
Lalu petugas menyuruhku ke ruang tunggu lagi, tidak lama kemudian
kembali namaku dipanggil.
“Jadinya besok ya mba.”
“Besok?” tanyaku, dalam hati tidak percaya.


” Ouw what a goddam rules!! Do you meant, you instrucs her to send a permission
short message to her boss more??!! To come here put this damm files?!!
Yaouw right..!!.,”si Chriss tiba-tiba muncul mengoceh di depan petugas itu.
Lama sekali Chris mengoceh tidak karuan, tidak jelas juntrungannya. Sampai petugas itu memutuskan memanggil petugas lainnya untuk mengusir Chris keluar ruangan.

“Jam berapa?,” tanyaku.
“Sekitar jam 9-an.”

Aku pergi, setelah mengucapkan terima kasih ke petugas itu.

Kulihat HP.
10:12.

Kubuka ikatan Pegassus. “Pondok Gede, Pegassus. Hyaaa!”

Terik.
Macet.
Mulai haus dan lapar.
Berpeluh.

“Haaaji”, seru supir angkot.
Kuberikan tiga lembar uang pecahan ribuan.

[ Ruang Tunggu Pasien ]


Ini sudah yang kesekian kali aku bolak-balik melihat jam dinding.
Hampir satu jam, tapi namaku belum dipanggil.
Kubuka tas. Ku ambil HP.
“Sepertinya teman-teman sedang sibuk, “kututup window Chat YM.
“www.google.co.id [GO]..”

“…rencana pemerintah untuk memprivatisasi RS Haji…”
“Direktur RS Haji dipanggil kepolisian atas dugaan kasus korupsi..”

“Ibu Anaaa…”
Aku bergegas masuk ruang periksa.

“Saya mau buat surat keterangan berbadan sehat, Bu, eh Dok..”
“Untuk keperluan?”
“Persyaratan cpns bu..”
“Oh, lagi buka ya? Departemen apa?”
“Depkeu.”
“Mba ke lab dulu…”
“Lab?,”tanyaku heran.
“Iya. Biasanya untuk CPNS selain surket berbadan sehat juga diperlukan
pemeriksaan lab dan pemeriksaan anti narkoba.”
“Oh, begitu, Bu. Tapi ini cukup surket berbadan sehat saja.”
“Yakin ya? Karena yang sudah-sudah nanti balik lagi kesini..”
Aku mengangguk.

Kemudian dokter itu menyuruhku berbaring. Di tempelkan stetoskop itu didadaku.
Aku mengatur napas dan berusaha rileks. Seolah bisa mengatur degup jantung
agar ada di kisaran 80-90/detik.

“Perutnya juga diperiksa,”katanya seolah memintaku menyisingkan bajuku.
“Sakit ga?”, dia menekan uluhati ku.
“engga”.

Pemeriksaan selesai. Kemudian ibu dokter memanggil asistennya.
“Mba periksa berat dan tinggi badan dulu..”

Kemudian muncul perempuan muda berjilbab. Dengan ramah mengajakku
ke ruangannya.
Setelah itu aku berdiri dengan tegap di sebuah alat yang menurutku sudah
lama usianya.

“Satu.. Dua.. Tiga.. eh.. Satu. Dua. Tiga. Empat. Li-ma?,” karena tidak yakin
perawat itu mengulangi lagi hitungannya.
“Satu.. Dua.. Tiga.. Empat.. Nah, bener nih empat…,”ucapnya yakin sambil
terkekeh. Ketidakyakinan malah datang dari diriku yang sedari tadi
memperhatikannya.
“Seratus empat puluh tujuh.” vonis perawat itu.

Tiba-tiba Chris menghalangi badanku. “Yang benar sajaaa!!!!
Tinggiku tidak segituuuu !!!! Ini Fitnaaaaaaaaaaah!!”..

“Tapi mba, tinggi saya itu 153,”belaku.
“Mba tahu, tinggi saya itu 161. Tapi waktu diukur dengan ini jadi 153.
Hihihi… Tau deh Mba, mungkin makin kesini jadi makin pendek,”
Jawab perawat itu santai seolah ini adalah obrolan ringan.

“Nooo….” Kali ini Chris memegangiku lebih erat dari sebelumnya.
“Dia sendiri merasa ada yang salah dengan alat ini. Ini tidak bisa
diteruskaaaaan!!!!!”

“Satu. Dua. Tiga. Empat,” berhitungnya lagi.
“Empat puluh empat,”vonisnya.

“Lepaskaaaan..!!! Orang ini harus tahu apa hukumannya
bagi pencipta kebohongan publik! Ini pembunuhan karakter
namanyaa!! Unacceptabled !! Ini tidak benar… Beratku itu 42..
Katakan padaku kalau dia se-dang ber-canda.. Hiks.. hiks..”

Setengah hati aku menuju kasir.
“Bu, RS Haji itu milik pemerintah?”
“Swasta,”jawabnya ringan sambil mengembalikan sisa uangku.

”Ouw, My Goat!”

Ku kumpulkan semua ingatanku.

“… dibangun di atas tanah milik Departemen…”
“…rencana pemerintah memprivatisasi RS Haji…”
“… dugaan kasus korupsi Direktur RS Haji Jakarta…”

“Direktur?,”tanyaku dalam hati.
Pusing, lapar dan haus seketika menjadi satu.

“Pak, ini RS swasta kan pak?”, selidikku ke bagian informasi.
“Ini RS negeri. Kepunyaan Departemen Kesehatan.”
“O. Tadi saya tanya ibu kasir di dalam katanya ini milik Swasta”.
Wajahnya berubah, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Oh ya, sebenarnya RS ini sedang lagi ada seng-keta…”

”Pegassus, RSCM! Hyaaa! Hyaaaa!!”.

Siang ini sangat terik. Macet. Ditambah situasi perut mulai tidak kondusif.
“Sabar Ana, kamu sering mengalami yang lebih buruk dari ini…”, hiburku.

Rute ini adalah rute yang sama menuju kantor lamaku.
Jauh, panas, hiruk-pikuk, dan super macet.
Melewati terminal Kampung Melayu yang lembab dan pesing,
dan seterusnya.. dan seterusnya…

[ Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo ]

“Coba ke ruangan MPK di lantai 3,”saran petugas informasi.
Ku naiki tangga demi tangga.
Gedung ini menurutku tidak layak disebut rumah sakit.
Tua, langit-langitnya ambrol, dan dindingnya retak-retak.
Bau carbol menyeruak.
Semoga gedung ini masih jauh dari ruang kerjanya
Pak Mun’im Idris, he he he..

“Maaf pak, saya mau tanya. Ruangan MPK dimana ya?,”tanyaku
pada seorang bapak di dalam loket lantai 3.
“Sebelah kiri ada pintu besi, itu ruangannya”.
“Terima kasih, Pak”.

Setengah berlari ke menuju ruangan yang dimaksud.
Sudah jam 12 lewat, semoga masih ada orang.

“Ya, mba?,”tanya seorang perempuan berseragam putih.
“Saya mau membuat. Surat keterangan berbadan sehat”.
“.. untuk kelengkapan CPNS,”perjelasku lagi.
“Disini tidak melayani itu. Kalau cuma mau periksa itu, mba
ke puskesmas aja”.
“Puskesmas?,”aku masih tidak mengerti atau mungkin lebih tepatnya tidak mau mengerti.
“Puskesmas Cikini aja deket dari sini di belakang stasiun, “terangnya lagi.
“Oh. Cikini. Terima. Kasih, Mba, “

Langkahku lemah keluar ruangan itu.
Kuturuni tangga.
“Aku butuh surat keterangan dari RS pemerintah bukan Puskesmas…
Hemm, baiknya aku ke Fatmawati atau Puskesmas Cikini ya..?”
Bingung.

Kasihan Pegassus, terpancang di tiang beralas aspal. Kepanasan dan
tidak bisa merumput. Langkahku tanpa semangat. Kubuka ikatan Pegasssus.
Hap! Ku putar tali kekang. Hosh.. Hosh.. Kami berjalan perlahan. Tanpa semangat.

“Pak, tahu Puskesmas Cikini?”,tanyaku pada supir bajaj yang belum kebagian
penumpang.
“Ehmm.. Tahu. yang di belakang stasiun itu ya?”
“Iya.”
Aku naik.


Oh, aku kenal jalan-jalan ini.
Megaria.
Oh ya, aku kan pernah makan disitu sama Rini.
Traktir perpisahan, karena Rini mau resign 🙂

“Yang ini bukan mba?”
Bajaj berhenti di tempat mirip kantor kelurahan.
“Kayaknya bukan pak, tulisannya Kantor Kelurahan Menteng”,jawabku.
Bajaj memperlahan.
“Ini?”,tanya supir bajaj lagi.
Tulisannya Puskesmas Menteng. Memang bukan Puskesmas Cikini, tapi
sama-sama puskesmas jadi kupikir tidak masalah.
“Ya deh. Turun sini, pak.”

[ Puskesmas Menteng ]

Sepi.

Pendaftaran ada di lantai kedua, gedung paling kiri.
TUTUP.
“Huff, belum beruntung”.
Ku tengok jam dinding.
12:20.

“Tanya sama dia, dia yang jaga,”jawab salah satu petugas yang sedang
membaca koran tidak acuh.

Makin lemas badanku saat kudengar obrolan petugas jaga bahwa dia
baru akan buka jam 14:00. Aku memutuskan menunggu.

Tidak lama…
“Neng mau periksa apa?”
“Saya mau buat surat keterangan sehat.”
“Oh, bisa. Tapi nanti ya, jam 2 baru buka lagi.”

Jawabannya ini seolah mengisyaratkan jika dia merasa terganggu kalau aku
terus menunggu di ruang tunggu puskesmas. Akhirnya aku keluar.

Aku tanya seorang ibu berkerudung, letak mushola. Tapi dia menjawab singkat,
tidak tahu. Aku terus berjalan. Tidak jauh dari situ ada kantor mirip kantor
Kelurahan. Ternyata kantor kecamatan plus KUA.

Lantai 2 : Musholla

“Aha!”.

Aku masuk saja ke kantor itu. Ku naiki tangga. Santai dan tenang.
Seolah-olah aku ini masyarakat sekitar situ. Aku sholat dan istirahat sebentar.
Ku lanjutkan dengan makan bakso.
Kurang 30 menit lagi aku kembali ke Puskesmas.

Tepat jam dua kurang sepuluh aku mendapat kertas kecil nomor urut 113 dengan
keterangan dibawahnya, sisa antrian 26. Hemm, heran perasaan sedari tadi sendirian xixixi 🙂
Aku menuju ruang dokter tersebut, di lantai 3. Lalu duduk di kursi antrian pasien,
tepat didepan pintunya, yang diatasnya ada counter 112.

Menunggu. Membayangkan bagaimana di periksa di RS Haji,
aku berharap sekali dokterku perempuan juga.

“dr. Kiki diharap menuju lantai 3”
Speaker informasi memanggil yang bersangkutan untuk yang kedua kalinya.
Sepuluh menit kemudian, kembali menggaung.

Gelisah. Hampir 30 menit tidak kunjung datang.
“Apa dia sudah keburu pulang ya?”, pikirku.

Aku beranikan diri mengetuk pintu yang setengah terbuka itu.
“Masuk.”
“Saya mau buat surat keterangan sehat, bu”.
Tangannya menengadah. Kuberikan kertas kecilku itu.
Tidak lama dua ibu muda itu saling berdiskusi.
“Oh, sini mba.”
Satu dari mereka menyuruhku duduk.
Ibu itu kelihatan sibuk mencari sesuatu.
Setelah menemukan apa yang dicarinya, lalu diambilnya selembar kertas hasil periksa dengan stempel pemerintahan.

“Mba beratnya berapa?”
“Kalau tinggi?”

Dan seterusnya..

Benar-benar hebat! Mereka cuma butuh pulpen bukan stetoskop!!!
Kuamati berkali-kali kertas berstempel pemerintah ini.

Selembar kertas yang membuatku terdampar sampai ke Menteng 🙂

“Pegassus, ayo kita pulang…”

TAMAT

Negeri Para Bedebah

Aku bukan penikmat puisi atau karya sastra lainnya, tapi waktu mendengar puisi ini di Metro TV, aku begitu terkesan. Bahasanya lugas dan penggunaan kata-katanya sedikit banyak (seperti) terinspirasi dari kitab suci.

Negeri Para Bedebah

karya: Adhie Massardi

sumber gambar: revo4me.wordpress.com/2010/01/30...korupsi/

sumber gambar: revo4me.wordpress.com/2010/01/30...korupsi/


Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

Email Kantorku (1)

Satu lagi email yang dianggap PENTING, dimana jajaran KOMISARIS dan DIREKSI perlu tahu… wkwkwkwk

From: praxxxx [mailto:praxxxx@praxxxx.co.id]
Sent: Thursday, December 10, 2009 1:55 PM
To: ‘PCI Members’
Subject: Nomor HP

Rekan semua,

Sehubungan dengan berpindahnya kepemilikan
nomor HP saya yang lama beserta HP-nya
tanpa sepengetahuan saya… (hilang gitu loh)

Dengan ini saya memberitahukan nomor yang baru :
0888 109 XXXX

Bagi yang berminat, silahkan menyimpan nomor ini dalam
Phone book anda.

Terimakasih,

Praxxxxx.

Email Kantorku

Awalnya…

—–Original Message—–
From: A.F Budihaxxxx [mailto:fbudihaxxxx@praxxxx.co.id]
Sent: 07 Agustus 2009 11:23
To: pci_mbr@praxxxx.co.id
Subject: Berita kehilangan..

Mohon bantuan saudara &rekan² utk sebarluaskan email ini.
Telah meninggalkan rmh tanpa pamit seorg anak bernama Agus Sutijono, usia
6 thn, tinggi 110 cm,pendek agak cebol,berkacamata, rambut agak kribo,
kulit coklat-sawo matang, terakhir memakai kaos biru dengan logo futsal
praweda & Sandal CROC yg kebesaran.
Bila mengetahui keberadaan anak tsb mohon sgra ? orang tuanya di
08123455218 (Haji Yusup). KARENA SANDALNYA MAU DI PAKAI JUMATAN KE
MESJID..

Terima kasih atas bantuan saudara2..
Sent from my BlackBerry Tour® Nyambung Teruuusss…!

Reply 1…

—– Original Message —–
From: “Wisnhu Arxxxxx”
To: ;
Sent: Friday, August 07, 2009 1:32 PM
Subject: RE: Berita kehilangan..

Mohon maaf,bagaimana kalo email bercanda seperti ini tidak di post ke
pci_member karena dari judulnya saya kira sesuatu yang benar.
Terima kasih

Wisnhu Arxxxxx

Samudera Indonesia Bld, 7th Floor
Jl. Letjen S. Parman Kav 35 Jakarta 11480
Indonesia

Reply 2…

—– Original Message —–
From: “Luxxxx” <luxxxx@praxxxx.co.id
To: "Wisnhu Arxxxx" <wisnu@praxxxx.co.id; <fbudihaxxxxx@praxxxx.co.id;
<pci_mbr@praxxxx.co.id
Sent: Friday, August 07, 2009 2:01 PM
Subject: Re: Berita kehilangan..

Saya kira usulan Pak Wisnu itu BENAR!, juga disamping itu,
BAHASA/KALIMAT yang DISAMPAIKAN BEGITU SANGAT "NYELENEH" dan SANGAT
MENYINGGUNG PERASAAN "KAMI", TERUTAMA SEKALI PADA PENEKANAN "KARENA SANDALNYA MAU DI PAKAI JUMATAN KE MESJID..", Saya kira rekan kita ini
mengirim EMAIL, mempunyai maksu BESAR KEMUNGKINAN dengan TUJUAN TIDAK BAIK

Semoga komentar atau usulan kami DAPAT MENJADI PERHATIAN dan BAHAN
KOREKSI !

Reply 3…

—– Original Message —–
From: “Emixxxxx” <emixxxx@praxxxxx.co.id
To: "Luxxxx" <luxxxx@praxxxx.co.id; "Wisnhu Arxxxxx" <wixxxx@praxxxx.co.id; <fbudihaxxxx@praxxxx.co.id; <pci_mbr@praxxxx.co.id
Sent: Friday, August 07, 2009 1:58 PM
Subject: Re: Berita kehilangan..

Ok.guys…..cukup ya…..Insya ALLAH ini cuman becanda'an yang agak
kelewatan. pasti dengan tanggapan dari temen2 Insya ALLAH tidak akan
diulangi lagi……Ok…..

Have A Great Day…..Wassalam….!!!!!!!!!!!

Reply 4…

—–Original Message—–
From: Fariexxxxx [mailto:faxxxx@praxxxx.co.id]
Sent: Friday, 07 August 2009 02:20 AM
To: pci_mbr@praxxxx.co.id
Subject: Re: Berita kehilangan..

Rekan – rekan yg sy hormati,

Mohon kesadarannya untuk penggunaan email kantor , terutama yg ditujukan ke PCI_MBR@praxxxx.co.id agar hanya digunakan untuk kepentingan pekerjaan saja.
Perlu diingatkan lagi bahwa semua email yg di tujukan ke pci_mbr@praxxxx.co.id maka akan terkirim ke semua member @praxxxxx.co.id ,yg berarti juga akan terkirim ke Direksi & seluruh Komisaris. Hal ini sudah sering kita ingatkan dan tolong rekan – rekan patuhi. Dan untuk selanjutnya bagi yg masih mengirim email seperti ini lagi ke pci_mbr@praxxxx.co.id, maka email addresnya akan saya hapus.

Salam

Fariexxxx

Reply 5…

—– Original Message —–
From: “A.F Budihaxxxx”
To:
Sent: Friday, August 07, 2009 4:22 PM
Subject: RE: Berita kehilangan..

WAduh… mohon maaf & dimaafkan yang sebesar²nya kalau ada yg tersinggung dan disinggung & ga ada maksud apa²( sampe tulisannya Bold & gede² abeess..
kayanya dendam pribadi ni heehe..), just reply fun mail biar ga stress Thanks atas tegurannya dari rekan² sekalian.. 😉

Salam

Reply 6…

Mohon maaf sebelumnya saya memberikan tanggapan yang mana saya jarang sekali membeikan komentar tetapi kali ini saya sampaikan kepada Bpk.A.F.Budihaxxxxx ini bukan ada yang tersinggung mapun disinggung karena awalnya judulnya minta bantuan anak HILANG pada awalnya membaca saya sampai kaget anak siapa yang hilang tetapi ujung2 cuman masalah sendal jepit.terima kasih.

😀


Le Grand Voyage atau “Ar-Rihlatul Akbar” atau “Perjalanan Agung” adalah sebuah film yang aku tonton di Metro TV. Film ini benar-benar menyentuh. Aku memang menyukai film-film produksi Timur Tengah, ide ceritanya unik, umumnya keluar dari mainstream yang populer dan orisinil.

Film ini dibintangi Nicolas Cazale, Mohamed Majd dan Jacky Nercessian produksi tahun 2004 oleh Ismael Ferroukhi. Mengisahkan perjalanan haji seorang ayah (Mustofa) ditemani anak laki-lakinya (Reda) menuju Mekkah.
Reda merasa terpaksa harus menemani ayahnya untuk pergi haji karena sang ayah tidak bisa menyetir dan SIM kakaknya dicabut. Jarak yang mereka tempuh kira-kira 5000 km antara Perancis – Mekkah. Berawal dari Perancis menuju Italia terus ke Slovenia, Kroasia, Yugoslavia, Bulgaria, Turki, Syria, Yordania, dan akhirnya sampai ke Arab Saudi. Perjalanan jauh ini, dipenuhi berbagai macam cobaan seperti konflik internal antara ayah dan anak, kehilangan uang di tengah perjalanan,tertimbun salju, bertemu sosok wanita misterius dan lain sebagainya.
Namun perjalanan sesungguhnya bukanlah perjalanan sang ayah yang menunaikan ibadah haji, melainkan perjalanan sang anak yang menemukan hakikat hidup. Reda bukan pemuda yang spiritual, Reda sangat egois dan suka kemewahan, selain itu sepanjang perjalanan selalu teringat kekasihnya. Dari setiap konflik dengan ayahnya, halangan dan tantangan yang secara bersama mampu dihadapi hingga sampai ke tempat tujuan. Akhirnya Reda pun harus menghadapi kenyataan Ayahnya meninggal di tanah suci. Reda pun menangis sejadi-jadinya di samping jasad ayahnya. Perjalanan Agung sang Ayah ini telah memberikan makna spiritual tersendiri bagi sang Anak.

Potongan dialog yang paling aku suka..

Reda: Why didn’t you fly to Mecca? It’s a lot simpler. (Kenapa Ayah tidak naik pesawat untuk naik haji? Lebih praktis)
The Father: When the waters of the ocean rise to the heavens, they lose their bitterness to become pure again… (Saat air laut naik ke langit, rasa asinnya hilang dan murni kembali…)
Reda: What? (Maksudnya?)
The Father: The ocean waters evaporate as they rise to the clouds. And as they evaporate they become fresh. That’s why it’s better to go on your pilgrimage on foot than on horseback, better on horseback than by car, better by car than by boat, better by boat than by plane. (Air laut menguap naik ke awan. Saat menguap, ia menjadi tawar. Itulah sebabnya lebih baik naik haji berjalan kaki daripada naik kuda. Lebih baik naik kuda daripada naik mobil. Lebih baik naik mobil daripada naik kapal laut. Lebih baik naik kapal laut daripada naik pesawat.)

Disuatu malam Reda memimpikan melihat ayahnya menggembala domba. Reda memanggil-manggil ayahnya, namun ayahnya tidak menghiraukannya. Sejak malam itu perasaan Reda berubah terhadap ayahnya. Keesokkan hari Reda mencari Ayahnya, namun tidak berhasil menemukannya. Hingga akhirnya, diketahui ayah Reda sudah meninggal. Reda menangis.. (disini aku juga menangis, abis beneran sedih banget ! Begitu juga waktu Reda memandikan jenazah ayahnya). Reda ingat pesan ayahnya untuk menjual mobilnya, agar Reda bisa punya uang untuk kembali ke Perancis.
Salam, Ana
Referensi:
http://areeavicenna.wordpress.com/
http://blog.yudihardis.com/