Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘News Clipping’ Category


Tempo hari aku sempat dibingungkan oleh sebuah rumor tentang perubahan arah kiblat, yang KATANYA, karena pergeseran lempeng bumi sebagai akibat bencana alam, gempa-gempa yang terjadi. Awalnya aku sempat bergidik ngeri.. Is it “something” really bad gonna happen nearly???? Sampai akhirnya aku mendapat informasi yang utuh. Nah, di bawah ini aku mencoba mengulasnya, semoga bermanfaat. 😀

.

Okay, lets we get start with, what is KIBLAT (QIBLA) exactly meant?? Secara literal kiblat dalam bahasa Arab adalah pemusatan perhatian. Kiblat adalah kata Arab yang merujuk arah yang dituju saat seorang Muslim mendirikan sholat. Awalnya, sebelum ada kiblat, umat Islam awal shalat menghadap ke mana saja. Dalam sejarah Islam, arah kiblat memang pernah diubah. Setelah semula mengarah ke Masjdil Aqsha (Al-Quds), kemudian turun firman ALLAH SWT untuk mengubah arah kiblat, sebagaimana tersebut di Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 144:

Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan palingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Maka palingkanlah wajahmu kearah Masjidil Haram.

Sejak saat itu, hingga kini, kiblat shalat umat Islam berubah ke Ka’bah, yang terletak di tengah Masjidil Haram di Mekah.

Dalam penetapan Kiblat terkandung makna penegasan dan pengajaran tata-cara dan tata-krama (etika) suatu dinamika kelompok. Prinsip terpenting untuk mencapai kesatuan dan kesetia-kawanan (solidaritas) kelompok adalah dengan penyatuan arah pandangan yang menafikkan pengelompokan atas dasar kebangsaan, rasialisme, kesukuan, asal wilayah, bahasa, maupun asal negara.

Cara Menentukan Arah Kiblat
.
Pada saat-saat tertentu dua kali satu tahun, Matahari tepat berada di atas Mekkah (Ka’bah). Diketahui bahwa posisi lintang Ka’bah adalah 21 derajat 25 menit busur 22 detik busur Lintang Utara (LU) atau 21,42278 derajat. Sementara itu, deklinasi matahari sepanjang satu tahun berubah secara periodik, berkisar dari sekitar minus 23,5 derajat hingga 23,5 derajat. Ternyata, lintang Ka’bah berada di dalam rentang deklinasi matahari. Ada dua kali peristiwa dalam setahun, ketika deklinasi matahari sama atau mendekati nilai lintang Ka’bah tersebut. Maka, saat itu di siang hari, matahari akan tepat atau hampir tepat di atas Ka’bah. Dengan demikian, bayangan setiap benda pasti akan menuju ke Ka’bah, sehingga arah kiblat dengan tepat dapat ditentukan saat matahari tepat di atas Ka’bah.

Hal ini dapat dibuktikan dengan rumus transformasi koordinat antara koordinat ekuator geosentrik dengan koordinat horison (Lihat tulisan tentang Transformasi Sistem Koordinat). Salah satu rumusnya adalah

sin(altitude) = sin(deklinasi)*sin(lintang) + cos(deklinasi)*cos(lintang)*cos(hour angle).

Pada saat tengah hari, hour angle = 0 derajat. Nilai cos(0) = 1. Karena matahari ada di atas kepala, maka altitude = 90 derajat. Nilai sin(90) = 1. Rumus di atas menjadi

sin(deklinasi)*sin(lintang) + cos(deklinasi)*cos(lintang) = 1.

Ini hanya mungkin, jika deklinasi = lintang, karena rumus sin*sin + cos*cos = 1. Sekarang tinggal dicek, kapan deklinasi matahari nilainya sama atau paling mendekati lintang tempat tersebut. Deklinasi matahari berubah-ubah sepanjang tahun secara periodik (seperti grafik fungsi sinus atau cosinus). Nilai rata-rata deklinasi matahari setiap hari selama satu tahun dapat dilihat di

http://www.wsanford.com/~wsanford/exo/sundials/DEC_Sun.html

Untuk tanggal dan bulan yang sama dengan tahun berbeda, tentu saja nilai deklinasi matahari ini dapat berbeda sedikit, kira-kira dalam orde beberapa menit busur saja. Dari daftar tersebut, nampak bahwa nilai deklinasi matahari yang mendekati lintang Ka’bah terjadi pada tanggal 28 Mei dan 16 Juli.

Tugas selanjutnya adalah menentukan pada jam berapakah, matahari berada di atas Ka’bah. Saat itu adalah waktu zhuhur, dimana matahari melewati garis meridian sehingga memiliki altitude maksimum. Untuk menentukan waktu zhuhur, perlu diketahui tiga parameter, yaitu koordinat bujur setempat, koordinat waktu referensi, serta Equation of Time.

Ka’bah terletak pada bujur 39 derajat 49 menit busur 34 detik busur Bujur Timur (BT) atau 39,8261 derajat. Waktu lokal Ka’bah adalah UT + 3 jam sehingga koordinat bujur referensi adalah 3*15 = 45 derajat. Sementara itu Equation of Time untuk tanggal 28 Mei dan 16 Juli berturut-turut adalah sekitar 2 menit 56 detik = 2,93 menit dan minus 5 menit 52 detik = – 5,88 menit. Silakan lihat rata-rata nilai Equation of Time sepanjang tahun di

http://freepages.pavilion.net/users/aghelyar/sundat.htm

(Nilai Equation of Time untuk satu tanggal sama dengan tahun berbeda dapat berubah, namun hanya dalam orde detik saja)

Jika matahari kita adalah matahari fiktif yang bergerak dengan kecepatan konstan, serta koordinat bujur tempat kita tepat sama dengan koordinat bujur referensi, maka matahari fiktif tersebut selalu melewati meridian pada pukul 12.00 tepat waktu setempat. Namun karena matahari kita bergerak dengan kecepatan yang tidak sama, maka dibutuhkan faktor koreksi berupa Equation of Time (ET). Demikian pula, diperlukan koreksi perbedaan bujur tempat kita dengan bujur referensi. Hasilnya adalah pergeseran waktu saat zhuhur dari jam 12.00, yang dirumuskan

Pergeseran waktu (dalam jam) = [Bujur referensi – Bujur tempat]/15 – ET/60.

Pada ruas kanan persamaan di atas, selisih bujur dibagi 15 agar satuannya jam (15 derajat = 1 jam). Karena ET bersatuan menit, maka dibagi 60 agar bersatuan jam. Apabila pergeseran waktu dinyatakan dalam menit, maka rumusnya menjadi

Pergeseran waktu (dalam menit) = 4*[Bujur referensi – Bujur tempat] – ET.

Untuk tanggal 28 Mei, nilai pergeserannya = 4*[45 – 39,8261] – 2,93 = 17,8 menit atau dibulatkan 18 menit. Berarti waktunya adalah pukul 12.18 waktu setempat. Sedangkan untuk tanggal 16 Juli, nilainya = 4*[45 – 39,8261] – (-5,88) = 26,6 menit atau dibulatkan 27 menit. Berarti waktunya adalah pukul 12.27 waktu setempat.

Kesimpulannya, matahari berada di atas Ka’bah pada tanggal 28 Mei pukul 12.18 waktu setempat, dan tanggal 16 Juli pukul 12.27 waktu setempat. Karena waktu referensi antara Waktu Indonesia Barat (WIB, UT + 7 jam) dengan Ka’bah (UT + 3 jam) berselisih 4 jam, maka waktunya di wilayah Indonesia bagian Barat menjadi 28 Mei pukul 16.18 WIB dan 16 Juli pukul 16.27 WIB.

Cara melakukan pengukuran arah kiblat dengan metode ini adalah sebagai berikut. Cocokkan waktu dengan waktu standar. Pancangkan benda tipis seperti tongkat tegaklurus di atas tanah/lantai. Lakukan pengukuran pada saat yang tepat. Maka bayangan tongkat tersebut menunjukkan arah kiblat, atau dengan kata lain, arah kiblat sama dengan menghadap ke arah matahari saat itu.


Beberapa catatan

Pertama, tanggal dan waktu di atas adalah rata-rata sepanjang tahun. Jika tahunnya adalah tahun kabisat (misalnya tahun 2000, 2008 dan lain-lain), tanggalnya dimajukan satu hari menjadi 27 Mei dan 15 Juli. Secara praktis, pengamatan dalam rentang satu-dua hari sebelum dan sesudah tanggal tersebut masih cukup akurat untuk menentukan arah kiblat. Jadi, pengamatan bisa pula dilakukan dalam rentang 26-30 Mei sekitar pukul 16.18 WIB atau 14-18 Juli pukul 16.27 WIB, meskipun tentu saja yang paling akurat adalah 28 Mei dan 16 Juli. Dalam rentang plus-minus dua hari tersebut, nilai Equation of Time hanya berubah sekitar 11-15 detik saja sehingga masih cukup akurat.

Kedua, hitungan di atas sudah cukup teliti untuk keperluan praktis. Adapun jika ingin diperoleh waktu yang lebih teliti lagi, maka harus digunakan algoritma VSOP87 yang berisi komponen longitude, latitude dan distance planet-planet terhadap matahari. Dalam hal ini, dipilih algoritma untuk posisi bumi terhadap matahari, yang berarti sebaliknya juga, yaitu posisi matahari terhadap bumi. Dengan memperhitungkan koordinat Ka’bah seperti tersebut di atas, serta nilai Delta_T = 65,2 detik, maka pada tanggal 28 Mei 2009, matahari terletak di atas Ka’bah pada pukul 12:17:58 waktu setempat atau 16:17:58 WIB. Saat itu, altitude (ketinggian) titik pusat matahari adalah 89:54:47 derajat = 89,913 derajat (hampir mendekati 90 derajat) dan posisi titik pusat matahari terletak di sebelah utara titik zenith sehingga saat melewati meridian azimuthnya nol. Adapun untuk tanggal 16 Juli 2009, waktunya adalah pukul 12:26:46 waktu setempat atau 16:26:46 WIB. Saat itu, altitudenya adalah 89:53:17 derajat = 89,888 derajat dan azimuthnya saat melewati meridian adalah 180 derajat.

Ketiga, metode ini hanya dapat dilakukan pada hari cerah dimana matahari tidak terhalangi oleh awan gelap. Selain itu, metode ini hanya berlaku di daerah yang waktu lokalnya berselisih maksimum sekitar 5 hingga 5,5 jam dari Ka’bah, baik di sebelah timur (Asia) atau barat (Afrika dan Eropa). Atau bisa juga selisih waktunya lebih dari itu, namun posisi lintangnya cukup besar di daerah Utara sehingga matahari cukup lama di siang hari (seperti Jepang, selisih 6 jam dari Ka’bah) atau malah di dekat kutub Utara ketika matahari selalu ada di atas ufuk (seperti di Rusia Timur dekat Laut Bering). Jadi, pada tanggal 28 Mei maupun 16 Juli, tempat-tempat yang bisa melakukan metode ini adalah seluruh Afrika dan Eropa, Rusia, serta seluruh Asia kecuali Indonesia Timur (Papua). Di Papua, Australia maupun kepulauan di Samudera Pasifik, matahari sudah keburu tenggelam. Sebagai ilustrasi, pada tanggal 28 Mei di Jayapura (140 BT, 2 LS, ketinggian 0 meter dari permukaan laut, waktu lokal UT +9), matahari terbenam pada pukul 17:38 WIT atau pukul 15:38 WIB. Adapun sebaliknya baik di Amerika Utara dan Selatan, matahari belum terbit.

Keempat, untuk tempat-tempat yang tidak dapat melakukan metode ini, ada metode sebaliknya, yaitu ketika di Ka’bah posisi matahari tepat berada di bawah kaki (di titik Nadir). Dengan kata lain, saat itu altitude matahari di Ka’bah nilainya minus 90 derajat. Dari rumus

sin(altitude) = sin(deklinasi)*sin(lintang) + cos(deklinasi)*cos(lintang)*cos(hour angle)

maka situasi ketika altitude = -90 derajat atau sin(-90) = -1, adalah ketika deklinasi = minus lintang, serta cos(hour angle) = -1. Nilai Cos(hour angle) = -1 bersesuaian dengan waktu tengah malam (midnight) di Ka’bah. Sementara itu deklinasi matahari bernilai sama dengan atau mendekati minus lintang Ka’bah terjadi pada 14 Januari dan 29 Nopember.

Dengan menggunakan hitungan mirip seperti di atas, serta memperhitungkan nilai ET maka pada tanggal 14 Januari 2009, matahari terletak di bawah Ka’bah pada pukul 00:29:36 waktu setempat atau pukul 06:29:36 WIT (Waktu Indonesia Timur). Altitude matahari di Ka’bah adalah minus 89:54:49 derajat = -89,9136 derajat. Saat itu, di Jayapura matahari ada di atas ufuk karena sudah terbit pada pukul 05:42 WIT. Pada pukul 06:29:36 WIT di Jayapura, ketinggian matahari adalah sekitar 10 derajat dan azimuth matahari adalah sekitar 111,4 derajat. Azimuth ini berbeda 180 derajat dengan azimuth arah kiblat dari Jayapura sebesar 291,4 derajat. Dengan kata lain, dengan metode saat matahari tepat di bawah Ka’bah, arah kiblat sesuai dengan bayangan sinar matahari namun arahnya membelakangi matahari.

Demikian juga pada tanggal 29 Nopember 2009, matahari di bawah Ka’bah pada pukul 00:08:51 waktu setempat atau pukul 06:08:51 WIT dimana altitudenya minus 89:58:56 derajat = -89,9822 derajat. Di Jayapura saat itu matahari juga sudah ada di atas ufuk karena terbit pada pukul 05:21 WIT.

Kelima, prinsip umum dari metode ini adalah menentukan arah kiblat, dimana azimuth matahari dari tempat kita sama dengan arah azimuth kiblat. Karena itu sebenarnya matahari dapat juga diganti dengan benda langit yang lain, seperti bulan. Bulan bergerak dalam bidang orbitnya mengitari bumi yang kemiringannya sekitar 5 derajat dari bidang ekliptika. Sementara itu, seperti kita tahu bersama kemiringan bidang ekuator bumi dengan bidang ekliptika adalah sekitar 23,5 derajat. Jadi, maksimum deklinasi bulan bisa mencapai 28,5 derajat dan minimum deklinasi bulan bisa mencapai minus 28,5 derajat. Lintang Ka’bah terletak di antara dua nilai minimum-maksimum tersebut, sehingga memungkinkan bulan untuk berada tepat di atas Ka’bah. Hanya saja deklinasi bulan tidak berbentuk periodik sesederhana bentuk periodik deklinasi matahari, karena ada faktor lintang ekliptika bulan yang berubah-ubah (karena bidang orbit bulan tidak sejajar dengan bidang ekliptika). Akibatnya waktu saat bulan berada di atas Ka’bah tidak tetap sebagaimana tetapnya waktu matahari di atas Ka’bah.

Dengan menggunakan algoritma ELP2000, dapat diketahui bahwa untuk tahun ini bulan berada di atas Ka’bah pada tanggal 6 Januari 2009 pukul 23:57:40 WIB dengan altitude 89,83 derajat, tanggal 24 Juni 2009 pukul 18:03:39 WIB dengan altitude 89,81 derajat, serta tanggal 8 Nopember 2009 pukul 08:58:57 WIB dengan altitude 89,57 derajat.

Tool Penunjuk Arah Kiblat

Qibla Pointer adalah salah satu tool yang dapat digunakan sebagai penunjuk arah kiblat, silahkan kunjungi Qibla Pointer.

Cara Menyikapi Arah Kiblat

“Kalaupun seandainya selama ini shalatnya tidak persis mengarah ke kiblat, itu bukan berarti shalatnya lantas tidak diterima, karena sudah ada upaya untuk mengarah ke sana dan keliru, Tuhan akan memaafkan kekeliruan itu. Kalau memang para ulama dan ilmuwan menyatakan bahwa yang akurat itu ke arah (misalnya) barat laut, maka seluruh umat Islam hendaknya menyesuaikan diri dengan mengarah ke arah barat laut,” ujar Quraish Shihab.

Tapi, menurutnya, mengarah ke kiblat bagi orang di luar wilayah, mengarahnya ke Kabah bukan persis ke Kabah. “Saya tak melihat ini merupakan suatu hal yang harus dirisaukan,” ujarnya.

Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Ka’bah
http://agama.kompasiana.com/2010/07/16/perubahan-arah-kiblat/
http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newsvideo/2010/07/16/109246/Quraish-Shihab-Soal-Kiblat-Tak-Perlu-Risau
http://www.eramuslim.com/syariah/ilmu-hisab/hari-meluruskan-arah-kiblat.htm

Iklan

Read Full Post »

Mengenali Kode Plastik

1-PETE. PETE atau PET (polyethylene terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih (transparan) tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Botol-botol dengan bahan dengan kode 1 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas.

2-HDPE. HDPE (high density polyethylene) biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu. Sama seperti nomor 1 PET, yang ini juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian. Buang botol yang sudah lama akan terlihat kusam atau terlihat baret-baret.

3-V. V atau PVC (polyvinyl chloride) adalah plastik yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.

4-LDPE. LDPE (low density polyethylene) biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek. Barang-barang dengan kode #4 dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan #4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.

5-PP. PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.

6-PS. PS (polystyrene) biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf. Selain tempat makanan, styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.

6 PS-E. PSE (Expanded Polystyrene) agak mirip dengan yang di atas. Tapi yang ini untuk jenis plastik seperti kotak CD, gelas kristal, mainan anak² dan video kaset.

7-OTHER. Other (biasanya polycarbonate) bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga. Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon. Hindari bahan plastik Polycarbonate.

Mau gampang dan aman, ingat nomor aja !! 😀

Referensi:
http://sehatuntuksemua.wordpress.com
http://www.plasticfreebottles.com

Read Full Post »

Source: bayuadhitya.wordpress.comIr. Soekarno, Presiden Pertama RI :
Dalam sebuah revolusi, bapak makan anak itu adalah hal yang lumrah.

kus1978.wordpress.comSoeharto, Presiden Kedua RI :
Siapa saja yang mencoba melawan, akan saya gebuki.

gusdurAbdurrahman Wahid (Gus Dur), Ulama, Presiden ke-4 RI :
Tergantung pemerintah. Kalau pemerintah campur tangan terus dalam segala hal yang terjadi, adalah kami tidak ada jalan lain adalah membisikkan pada para pemilih golput aja bareng-bareng.

rumahsejutaide...Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 RI :
Nabi saja seorang pemimpin, tapi nggak sarjana kok.

annAnn Landers, Kolumnis :
Satu dari empat orang di dunia ini mengalami gangguan jiwa. Bila tiga orang yang Anda kenal baik-baik saja, berarti Andalah yang mengalaminya.

zsazsaZsa Zsa Gabor, Aktris :
Saya adalah penjaga rumah yang hebat. Setiap kali saya meninggalkan seorang pria, saya selalu berhasil memiliki rumahnya.

alexAlexander Dumas the Younger, Pebisnis :
Bisnis ? Caranya mudah sekali: gunakan saja uang orang lain.

samuelSamuel Goldwyn, Produser Film :
Saya tidak mau dikelilingi orang yang bermental ‘yes-man’. Saya ingin orang yang mengatakan kebenaran meskipun setelah itu saya akan memecatnya.

robertoRoberto Goizueta, Pemimpin Coca Cola :
Musuh-musuh kita adalah kopi, susu, teh dan air putih.

johnJohn Paul Getty, Miliarder :
Bila Anda berhutang 100 Dollar, andalah yang pusing. Tapi bila Anda berhutang 100 juta Dollar, bank yang akan pusing.

adolfAdolf Hitler, Pemimpin Nazi :
Alangkah beruntungnya penguasa bila rakyatnya tidak bisa berpikir.

clementeClement Attlee, Perdana Menteri Inggris :
Demokrasi adalah pemerintahan yang diisi dengan banyak diskusi, namun demokrasi hanya efektif bila engkau mampu membuat orang lain tutup mulut.

Referensi : Wikimu

Read Full Post »

Berita ini di kutip dari ANTARA
Senin, 27 Agustus 2007 13:13 WIB | Warta Bumi |


Jakarta (ANTARA News) – Cuaca yang kian panas beberapa tahun terakhir membuktikan fenomena perubahan iklim telah benar-benar terjadi di Jakarta, demikian hasil pantauan yang dilakukan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG).

Suhu di Jakarta pada tahun 1870 adalah 26 derajat Celcius, namun dalam kurun waktu satu abad suhu meningkat 1,4 derajat Celcius.

“Dengan kata lain, hingga tahun 2000 suhu Jakarta telah melonjak hingga rata-rata 27,82 derajat celcius,” kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMG Prof. Mezak Arnold Ratag.

Rasio kenaikan suhu 1,4 derajat celcius dalam kurun 100 tahun di Jakarta, lanjut Ratag, jauh lebih tinggi daripada rata-rata kenaikan suhu Bumi yang cuma 0,7 derajat.

“Selisih tambahan 0,7 derajat celcius ini berarti selain pemanasan global, kenaikan suhu Jakarta juga berkombinasi dengan faktor lain seperti urbanisasi, berkurangnya pepohonan rindang dan lahan aspal yang terlalu dominan,” kata dia.

BMG memantau kenaikan suhu dalam periode 100 tahun di 20 kota besar di seluruh Indonesia, uniknya, Jakarta bukanlah kota yang mengalami kenaikan suhu tertinggi.

“Di Surabaya rasionya 1,5-1,6 derajat Celcius, di Medan bahkan sekitar 1,5-1,9 derajat,” ujar Ratag, “Walaupun ada juga kota-kota yang kenaikan suhu rata-ratanya di bawah batas tengah dunia yang 0,7 derajat.”

Apa yang terjadi bila suhu terus naik dan kota semakin panas?

Daerah yang temperaturnya tinggi mempunyai tekanan udara yang lebih rendah, sehingga uap air akan berlomba-lomba menuju ke daerah itu. Dengan sedikit saja gangguan angin, maka turunlah hujan di sana.

Fenomena ini terbukti lewat catatan curah hujan Jakarta yang naik 13 persen dalam periode tahun 1900-2000, kata Ratag menjelaskan.

Jika pada tahun 1900 rata-rata curah hujan per bulan adalah 319-356 milimeter, kini curah bisa mencapai 500 milimeter dalam satu bulan pada musim penghujan.

“Ini juga artinya dengan durasi musim hujan yang sama, curah hujan sekarang jauh lebih banyak daripada 100 tahun yang lalu, sehingga Jakarta lebih cepat terkena banjir,” ujar dia.

Bila suhu Jakarta jelas meningkat di atas rata-rata dan curah hujan meningkat tajam, Ratag juga memperkirakan gangguan kesehatan yang terkait dengan kerentanan tubuh terhadap suhu bakal sangat menyebar di Jakarta.

Lagi-lagi RTH

Berbicara tentang kenaikan temperatur Jakarta, ahli tata kota dari Universitas Trisakti Yayat Supriyatna menjelaskan bahwa telah terjadi kesalahan dalam alokasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta.

“Faktor pemanasan global adalah satu masalah, tapi faktor lokal berupa terbatasnya RTH juga merupakan penyebab naiknya suhu Jakarta,” kata Yayat.

Menurut dia, RTH berfungsi sebagai peredam panas sinar matahari yang sampai ke permukaan Bumi – selain juga sebagai penekan laju polusi udara.

“RTH bisa menurunkan suhu sekitar hingga 1-2 derajat Celcius, seperti halnya yang terasa bila kita berada di dalam hutan. Namun tentu saja kemampuan itu sangat ditentukan oleh jenis pohon di RTH, kalau hanya pohon penghias, tentu tidak semaksimal itu,” kata dia menjelaskan.

Saat ini Jakarta hanya memiliki RTH dengan proporsi 9 persen dari total luas wilayah yang sekitar 65.000 hektar.

Angka tersebut masih jauh di bawah ketentuan Undang-undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang Perkotaan yang mensyaratkan 30 persen RTH, terdiri atas 20 persen milik pemerintah dan 10 persen privat.

Alih-alih bertambah, faktanya di lapangan justru ruang terbuka hijau Jakarta terus menyusut dalam 5 tahun terakhir.

“Pada tahun 2000 hingga 2005, Jakarta kehilangan 4.000 hektar RTH, terdiri atas 3.500 hektar kawasan resapan air di Jakarta Selatan dan 500 hektar di berbagai wilayah Jakarta akibat perubahan fungsi lahan,” kata dia menjelaskan.

Berkurangnya RTH disayangkan oleh Yayat, karena untuk menambah 1 hektar saja Pemprov DKI Jakarta sangat kesulitan membebaskan lahan akibat harga tanah yang mahal.

“Nilai ekonomis tanah di Jakarta terlalu tinggi, 1 hektar di kawasan Jakarta Pusat misalnya bisa mendatangkan uang hingga Rp3 miliar per tahun untuk Pemprov DKI Jakarta lewat pajak, retribusi, dan reklame,” ujarnya, “Sehingga sulit rasanya mengalokasikan lahan untuk dijadikan sekedar taman, jika bisa mendatangkan uang banyak sebagai tempat usaha atau tempat tinggal.”

Yayat menegaskan bahwa kepentingan ruang terbuka hijau sebagai jalan mengurangi kenaikan suhu Jakarta terbentur oleh rasio ekonomi pendapatan Pemprov, sehingga bila tanah dialihkan fungsinya menjadi taman itu berarti pendapatan Pemprov akan berkurang.

Target RTH 30 persen di Jakarta, masih menurut Yayat, hanya akan terwujud bila ada kebijakan yang sangat ekstrim seperti membeli tanah yang sangat luas – atau menggarap lahan tidur – dan memberikan insentif besar-besaran kepada mereka yang bisa menambah RTH kota.

Berita ini di kutip dari detikNews

“Suhu rata-rata 33 derajat celcius. Ini masih normal,” kata Kepala Sub Bidang Meteorologi Publik BMKG Kukuh Ribudiyanto saat dihubungi melalui telepon, Selasa (17/3/2009).

Menurutnya, Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat panas di jakarta masih normal dalam kisaran 23-33 derajat Celcius. Suhu mengalami kenaikan pada September 2008 lalu di kisaran 35 derajat Celcius.

Read Full Post »

Berikut ini adalah Daftar Flora Identitas Provinsi di Indonesia berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri No. 48 tahun 1989 tentang identitas flora masing-masing provinsi:

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Source: Internet

Source: Internet


Source: Internet

Source: Internet


Source: Internet

Source: Internet

Read Full Post »