Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Movie’ Category


Le Grand Voyage atau “Ar-Rihlatul Akbar” atau “Perjalanan Agung” adalah sebuah film yang aku tonton di Metro TV. Film ini benar-benar menyentuh. Aku memang menyukai film-film produksi Timur Tengah, ide ceritanya unik, umumnya keluar dari mainstream yang populer dan orisinil.

Film ini dibintangi Nicolas Cazale, Mohamed Majd dan Jacky Nercessian produksi tahun 2004 oleh Ismael Ferroukhi. Mengisahkan perjalanan haji seorang ayah (Mustofa) ditemani anak laki-lakinya (Reda) menuju Mekkah.
Reda merasa terpaksa harus menemani ayahnya untuk pergi haji karena sang ayah tidak bisa menyetir dan SIM kakaknya dicabut. Jarak yang mereka tempuh kira-kira 5000 km antara Perancis – Mekkah. Berawal dari Perancis menuju Italia terus ke Slovenia, Kroasia, Yugoslavia, Bulgaria, Turki, Syria, Yordania, dan akhirnya sampai ke Arab Saudi. Perjalanan jauh ini, dipenuhi berbagai macam cobaan seperti konflik internal antara ayah dan anak, kehilangan uang di tengah perjalanan,tertimbun salju, bertemu sosok wanita misterius dan lain sebagainya.
Namun perjalanan sesungguhnya bukanlah perjalanan sang ayah yang menunaikan ibadah haji, melainkan perjalanan sang anak yang menemukan hakikat hidup. Reda bukan pemuda yang spiritual, Reda sangat egois dan suka kemewahan, selain itu sepanjang perjalanan selalu teringat kekasihnya. Dari setiap konflik dengan ayahnya, halangan dan tantangan yang secara bersama mampu dihadapi hingga sampai ke tempat tujuan. Akhirnya Reda pun harus menghadapi kenyataan Ayahnya meninggal di tanah suci. Reda pun menangis sejadi-jadinya di samping jasad ayahnya. Perjalanan Agung sang Ayah ini telah memberikan makna spiritual tersendiri bagi sang Anak.

Potongan dialog yang paling aku suka..

Reda: Why didn’t you fly to Mecca? It’s a lot simpler. (Kenapa Ayah tidak naik pesawat untuk naik haji? Lebih praktis)
The Father: When the waters of the ocean rise to the heavens, they lose their bitterness to become pure again… (Saat air laut naik ke langit, rasa asinnya hilang dan murni kembali…)
Reda: What? (Maksudnya?)
The Father: The ocean waters evaporate as they rise to the clouds. And as they evaporate they become fresh. That’s why it’s better to go on your pilgrimage on foot than on horseback, better on horseback than by car, better by car than by boat, better by boat than by plane. (Air laut menguap naik ke awan. Saat menguap, ia menjadi tawar. Itulah sebabnya lebih baik naik haji berjalan kaki daripada naik kuda. Lebih baik naik kuda daripada naik mobil. Lebih baik naik mobil daripada naik kapal laut. Lebih baik naik kapal laut daripada naik pesawat.)

Disuatu malam Reda memimpikan melihat ayahnya menggembala domba. Reda memanggil-manggil ayahnya, namun ayahnya tidak menghiraukannya. Sejak malam itu perasaan Reda berubah terhadap ayahnya. Keesokkan hari Reda mencari Ayahnya, namun tidak berhasil menemukannya. Hingga akhirnya, diketahui ayah Reda sudah meninggal. Reda menangis.. (disini aku juga menangis, abis beneran sedih banget ! Begitu juga waktu Reda memandikan jenazah ayahnya). Reda ingat pesan ayahnya untuk menjual mobilnya, agar Reda bisa punya uang untuk kembali ke Perancis.
Salam, Ana
Referensi:
http://areeavicenna.wordpress.com/
http://blog.yudihardis.com/

Iklan

Read Full Post »